-->

Notification

×

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Festival Layang-layang Nasional di Pantai Ketawang Dongkrak Ekonomi Warga, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Miliaran Rupiah

7/04/2026 | 3:56 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-09T08:56:23Z

Purworejo – Langit Pantai Ketawang di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, dipenuhi aneka layang-layang berwarna-warni dalam gelaran Festival Layang-layang Tingkat Nasional Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu (4/7/2026) hingga Minggu (5/7/2026), tidak hanya menyuguhkan atraksi seni yang memikat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

Festival yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Purworejo ini kembali menarik perhatian peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu strategi untuk memperkuat sektor pariwisata sekaligus menggerakkan perekonomian lokal melalui meningkatnya kunjungan wisatawan.

Penyelenggaraan festival merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo bersama Perkumpulan Pelayang Indonesia (Pelangi). Tahun ini menjadi penyelenggaraan yang ke-10 sejak pertama kali digelar, menandai konsistensi pemerintah daerah dalam menghadirkan agenda wisata yang mampu menarik minat masyarakat luas.

Selama dua hari pelaksanaan, kawasan Pantai Ketawang dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati pertunjukan layang-layang dari berbagai bentuk, ukuran, dan desain kreatif. Kehadiran ribuan wisatawan turut memberikan peluang usaha bagi pedagang makanan, pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, hingga masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, mengatakan keberhasilan sebuah kegiatan pariwisata kini tidak lagi diukur semata-mata dari besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurutnya, dampak yang jauh lebih penting adalah besarnya perputaran ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Sekarang cara berpikirnya bukan lagi sekadar menghitung Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi bagaimana menghitung multiplier effect atau efek pengganda dari perputaran uang yang terjadi di masyarakat," ujarnya.

Ia mengungkapkan, selama dua hari pelaksanaan festival, nilai transaksi ekonomi yang terjadi diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Perputaran uang tersebut berasal dari berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari penjualan makanan dan minuman, produk UMKM, jasa parkir, penginapan, transportasi, hingga berbagai kebutuhan wisatawan lainnya.

"Melalui event ini, perputaran uang diperkirakan mencapai miliaran rupiah," tambahnya.

Menurut Dion, manfaat ekonomi festival benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Pelaku usaha mikro, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), hingga warga Desa Ketawangrejo memperoleh tambahan pendapatan berkat meningkatnya jumlah pengunjung yang datang selama acara berlangsung.

"Teman-teman UMKM, Pokdarwis, dan masyarakat Desa Ketawang merasakan keberkahan dan rezeki dari kegiatan ini," katanya, Senin (6/7/2026).

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong penyelenggaraan kegiatan serupa karena terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kecil.

"Itulah yang ingin terus kami dorong agar pedagang mikro dan pedagang kecil memperoleh manfaat ekonomi secara langsung," lanjutnya.

Selain memberikan dampak ekonomi, Festival Layang-layang Nasional juga menjadi media promosi yang efektif bagi destinasi wisata Pantai Ketawang. Kawasan pesisir selatan Purworejo yang dikenal memiliki bentang alam luas dan angin yang stabil dinilai sangat ideal untuk penyelenggaraan festival layang-layang berskala nasional maupun internasional.

Kepala Dinporapar Kabupaten Purworejo, Bangun Erlangga Ibrahim, menjelaskan bahwa festival ini merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam memperkenalkan potensi wisata daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, festival tidak hanya menghadirkan kompetisi menerbangkan layang-layang, tetapi juga menjadi ruang untuk melestarikan seni dan budaya yang telah berkembang sejak lama di Indonesia.

"Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan layang-layang, tetapi juga sebagai upaya melestarikan kebudayaan, kreativitas, seni pembuatan, dan penerbangan layang-layang," jelasnya.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat citra Purworejo sebagai destinasi wisata yang memiliki daya tarik unik dan mampu bersaing dengan daerah lain.

"Kami berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat, serta memperkuat branding Purworejo sebagai destinasi wisata yang inovatif dan bersahabat," ujarnya.

Tingginya antusiasme peserta juga menjadi indikator bahwa Festival Layang-layang Nasional terus berkembang dari tahun ke tahun. Jika dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, jumlah peserta pada tahun 2026 mengalami peningkatan.

Sebanyak 31 tim ambil bagian dalam festival kali ini. Dari jumlah tersebut, 27 tim berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Tidak hanya peserta dalam negeri, festival juga diikuti empat tim internasional yang datang dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Prancis. Kehadiran peserta mancanegara memberikan nuansa internasional sekaligus memperluas promosi wisata Purworejo di tingkat global.

Beragam layang-layang dengan desain kreatif menghiasi langit Pantai Ketawang. Mulai dari bentuk tradisional hingga kreasi modern berukuran besar, seluruh peserta menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam mengendalikan layang-layang di tengah angin pantai yang cukup bersahabat.

Bagi para pengunjung, festival ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga kesempatan untuk mengenal lebih dekat seni pembuatan layang-layang yang membutuhkan ketelitian, kreativitas, dan keterampilan tinggi.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Layang-layang Tingkat Nasional 2026 menunjukkan bahwa sebuah agenda budaya mampu memberikan manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar hiburan. Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, pelaku wisata, UMKM, dan masyarakat, sebuah acara dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat identitas destinasi wisata.

Dengan konsistensi penyelenggaraan selama satu dekade, Festival Layang-layang di Pantai Ketawang kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu agenda wisata unggulan di Jawa Tengah. Ke depan, kegiatan ini diharapkan terus berkembang, menghadirkan lebih banyak peserta internasional, memperluas promosi pariwisata, serta membuka peluang ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat Kabupaten Purworejo.(KN/*)
×
Berita Terbaru Update