-->

Notification

×

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Tangis Penyesalan Warnai Pembinaan 20 Remaja yang Diduga Hendak Tawuran, Orang Tua Sujud Syukur Anak Selamat dari Bahaya

6/10/2026 | 1:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-15T10:20:44Z

KEBUMEN – Suasana haru menyelimuti Gedung Tribrata Mapolres Kebumen pada Rabu (10/6/2026). Tangis pecah ketika puluhan remaja yang diamankan polisi karena diduga hendak melakukan tawuran bertemu dengan orang tua mereka dalam kegiatan pembinaan yang digelar Polres Kebumen.

Sebanyak 20 remaja, yang sebagian besar masih berusia di bawah umur, menjalani pembinaan bersama orang tua, guru, serta perangkat desa setelah sebelumnya diamankan polisi karena diduga terlibat dalam rencana aksi tawuran antar kelompok pelajar.

Dalam momen yang menyentuh tersebut, sejumlah remaja tampak tak kuasa menahan air mata. Mereka bersujud di hadapan orang tua masing-masing, memohon maaf sambil mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Tangisan para orang tua pun tak terbendung ketika melihat anak-anak mereka menyadari perbuatan yang hampir membawa mereka ke dalam persoalan hukum yang lebih serius.

Kegiatan pembinaan dipimpin langsung oleh Wakapolres Kebumen, Kompol Andre Bachtiar Winanomo, mewakili Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Kasatresnarkoba AKP Kismanto, Kasatbinmas AKP Joyo Suharto, para guru, perangkat desa, serta keluarga para remaja yang diamankan.

Peristiwa ini bermula pada Rabu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB ketika petugas Satresnarkoba Polres Kebumen melakukan patroli dan mendapatkan informasi terkait adanya sekelompok remaja yang berkumpul di sebuah lokasi tongkrongan di Desa Bendungan, Kecamatan Kuwarasan.

Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan puluhan remaja yang diduga tengah mempersiapkan diri untuk melakukan aksi tawuran dengan kelompok lain. Dari lokasi tersebut, polisi turut mengamankan tiga bilah senjata tajam jenis celurit dengan panjang sekitar 70 sentimeter.

Keberadaan senjata tajam tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa kelompok remaja itu sedang bersiap melakukan aksi yang berpotensi membahayakan keselamatan banyak pihak.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, para remaja tersebut diketahui telah menjalin komunikasi dengan kelompok lain melalui media sosial. Interaksi yang awalnya berupa saling komentar dan tantangan kemudian berkembang menjadi kesepakatan untuk melakukan tawuran di lokasi tertentu.

Beruntung, sebelum rencana tersebut terlaksana, aparat kepolisian lebih dahulu melakukan langkah pencegahan dengan mengamankan para remaja beserta barang bukti yang ditemukan di lokasi.

Langkah cepat tersebut dinilai berhasil mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan yang dapat berujung pada korban luka bahkan korban jiwa. Selain itu, tindakan pencegahan juga menyelamatkan para remaja dari risiko terjerat proses hukum yang lebih berat.

Dalam sesi pembinaan, berbagai fakta mengemuka. Salah satunya adalah minimnya pengetahuan orang tua mengenai aktivitas anak-anak mereka pada malam kejadian. Sebagian besar orang tua mengaku tidak mengetahui keberadaan putra mereka saat itu.

Banyak dari para remaja diketahui keluar rumah tanpa meminta izin atau berpamitan kepada keluarga. Beberapa orang tua bahkan mengaku mulai merasa cemas ketika anak mereka tidak kunjung pulang hingga menjelang pagi.

Rasa khawatir yang semula dipenuhi berbagai dugaan akhirnya terjawab setelah pihak kepolisian menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa anak mereka diamankan dalam operasi pencegahan tawuran.

Meski sempat terkejut dan sedih mendengar kabar tersebut, para orang tua mengaku bersyukur karena anak-anak mereka berhasil diamankan sebelum terlibat dalam aksi berbahaya yang dapat mengancam masa depan mereka.

Wakapolres Kebumen Kompol Andre Bachtiar Winanomo dalam arahannya menyampaikan keprihatinan mendalam atas fenomena kenakalan remaja yang belakangan semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial sering kali dimanfaatkan secara tidak tepat oleh sebagian kalangan remaja hingga memicu tindakan yang berpotensi melanggar hukum.

Ia menegaskan bahwa persoalan kenakalan remaja bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah desa, hingga masyarakat secara umum.


Menurut Kompol Andre, pengawasan orang tua merupakan faktor yang sangat penting dalam mencegah anak terlibat dalam pergaulan negatif. Orang tua diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga memberikan perhatian terhadap aktivitas sehari-hari mereka.

“Pengawasan orang tua menjadi sangat penting. Ketahui anak bergaul dengan siapa, ke mana mereka pergi, dan bagaimana aktivitas mereka di media sosial,” tegas Kompol Andre di hadapan para peserta pembinaan.

Ia juga mengingatkan bahwa media sosial saat ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi sering digunakan sebagai media untuk saling memprovokasi, menantang, bahkan mengorganisasi tindakan yang melanggar hukum.

Karena itu, orang tua diminta lebih aktif mengawasi penggunaan telepon genggam oleh anak-anak mereka. Pengawasan yang baik diyakini dapat membantu mendeteksi lebih dini apabila terdapat indikasi perilaku menyimpang atau pergaulan yang berisiko.

Dalam kesempatan yang sama, pihak kepolisian juga mengungkap adanya kemungkinan bahwa sebagian remaja yang diamankan merupakan kelompok yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Kelompok tersebut diketahui pernah melakukan konvoi atau pawai sepeda motor sambil membawa dan memamerkan senjata tajam di jalan raya.

Meski demikian, kepolisian masih terus melakukan pendalaman terkait keterkaitan kelompok tersebut dengan peristiwa yang sempat viral sebelumnya.

Bagi para orang tua yang hadir, pembinaan tersebut menjadi pelajaran berharga sekaligus peringatan bahwa pengawasan terhadap anak tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah. Banyak dari mereka yang mengaku tidak menyangka putra mereka terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada aksi tawuran.

Dengan mata berkaca-kaca, sejumlah orang tua menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan atas kejadian yang telah terjadi. Mereka berjanji akan meningkatkan perhatian dan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak kembali terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada Polres Kebumen yang telah mengambil tindakan cepat sebelum tawuran benar-benar terjadi.

Menurut para orang tua, langkah preventif yang dilakukan kepolisian telah menyelamatkan anak-anak mereka dari berbagai kemungkinan buruk, baik sebagai pelaku maupun korban kekerasan.

“Kalau sampai terjadi tawuran, mungkin akibatnya bisa jauh lebih buruk. Kami berterima kasih karena polisi sudah mencegahnya sejak awal,” ungkap salah satu orang tua peserta pembinaan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman kenakalan remaja masih menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama. Di era digital saat ini, komunikasi melalui media sosial dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik di dunia nyata apabila tidak disikapi secara bijak.

Melalui pembinaan yang melibatkan keluarga, sekolah, perangkat desa, dan kepolisian, diharapkan para remaja yang diamankan dapat mengambil pelajaran berharga dari kejadian tersebut. Kesempatan yang diberikan melalui pendekatan pembinaan harus dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan fokus pada kegiatan yang lebih positif.

Polres Kebumen berharap peristiwa ini menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap perkembangan generasi muda. Dengan pengawasan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan yang mendukung, para remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang berprestasi dan terhindar dari berbagai bentuk perilaku yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.(KN/*)
×
Berita Terbaru Update