KEBUMEN - Ribuan warga memadati kawasan Pendopo Kabumian hingga Alun-alun Pancasila Kebumen pada Selasa malam, 16 Juni 2026, untuk menyaksikan Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian Tahun 2026. Tradisi tahunan ini digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sekaligus Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Ba’. Selain menjadi ruang perayaan budaya, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur, doa bersama, dan pengingat untuk terus menjaga harmoni kehidupan masyarakat Kebumen.
Dengan mengusung semangat “Nguri-uri Budaya, Nglestarikake Tradisi, Mbangun Kebumen Berbudaya,” gelaran yang dalam dua tahun terakhir semakin intens dipublikasikan itu berlangsung gratis untuk umum dan disambut antusias masyarakat dari berbagai kalangan. Sejak sore hingga malam hari, warga tampak berbondong-bondong datang untuk menyaksikan rangkaian acara yang sarat nilai tradisi tersebut. Suasana penuh semangat dan kekhidmatan menyatu di tengah riuhnya kerumunan penonton yang ingin menjadi bagian dari momen budaya tahunan itu.
Sejumlah pejabat daerah turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Wakil Bupati Zaeni Miftah, Sekda Edi Rianto, mantan Bupati Ir. Mohammad Yahya Fuad, Ketua DPRD Kebumen Saman Halim Nurrohman, serta anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika. Hadir pula Wakil Ketua DPRD Kebumen Khalisha Adelia Aziza dan Solatun, jajaran pimpinan OPD, BUMD, budayawan, seniman, camat, lurah atau kepala desa, dan tokoh masyarakat setempat. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan bahwa tradisi Grebeg Sura bukan hanya milik komunitas budaya, tetapi juga bagian dari identitas bersama masyarakat Kebumen.
Prosesi adat dimulai dengan serah terima benda pusaka berupa tombak, yang kemudian dilanjutkan dengan kirab mengelilingi Alun-alun Kebumen. Serah terima pusaka tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual, termasuk sebagai pembuka menuju prosesi jamasan. Bupati Kebumen dan Wakil Bupati juga ikut menyerahkan pusaka untuk dimuliakan melalui prosesi adat itu, menandakan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan ucapan selamat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah serta Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Ba’ kepada seluruh warga masyarakat Kebumen. Ia menegaskan bahwa Merti Jagad membawa pesan penting tentang rasa syukur, kebersamaan, dan tanggung jawab untuk menjaga keselarasan alam serta kerukunan sosial. Menurutnya, kemajuan daerah tidak bisa hanya disandarkan pada pemerintah, melainkan harus dibangun bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
“Kemajuan daerah tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah saja, melainkan membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat. Jika semangat gotong royong terus kita jaga, Kebumen akan semakin maju, berdaya, dan sejahtera,” ujar Lilis Nuryani dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat Merti Jagad yang memang tidak semata-mata berorientasi pada seremonial, tetapi juga menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan sesama. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk merenungkan kembali makna syukur atas nikmat rezeki, keselamatan, serta keberkahan yang telah diterima selama setahun terakhir. Di saat yang sama, doa dipanjatkan agar pada tahun yang baru, Kebumen dan seluruh warganya diberi kemudahan, kesejahteraan, dan perlindungan.
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen, Basikun Mualim atau yang akrab disapa Petruk Kabumian, menjelaskan bahwa esensi Merti Jagad adalah ruang refleksi atas hasil panen, kelancaran usaha, dan berbagai capaian yang telah diraih masyarakat dalam satu tahun terakhir. Tradisi ini, kata dia, sekaligus menjadi sarana untuk memohon kemudahan dalam menghadapi tahun baru. Ia menekankan bahwa Kebumen memiliki akar sejarah budaya yang kuat dan mandiri, tidak semata-mata bertumpu pada pusat kebudayaan keraton di Yogyakarta maupun Surakarta.
Menurut Basikun, Kebumen juga mewarisi nilai-nilai luhur dari trah Ki Ageng Mangir melalui sosok Ki Bodronolo. Karena itu, identitas budaya Kebumen perlu terus dirawat agar masyarakat, terutama generasi muda, memahami bahwa daerah ini memiliki sejarah dan warisan kebudayaan yang khas. Ia menilai bahwa Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian menjadi salah satu ruang paling tepat untuk menampilkan kembali kekayaan tradisi itu secara terbuka dan meriah di hadapan publik.
Daya tarik utama dalam gelaran tahun ini adalah arak-arakan tujuh gunungan yang terdiri atas sepasang gunungan lanang dan wadon, lima gunungan pengiring, serta tenong atau ambeng. Gunungan tersebut disusun dari berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan palawija. Bagi masyarakat, gunungan bukan sekadar tumpukan hasil panen, melainkan lambang kemakmuran, kebersamaan, dan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan. Kehadiran gunungan juga memperkuat pesan bahwa hasil bumi harus dijaga, dimanfaatkan, dan dibagikan dengan semangat gotong royong.
Usai kirab mengelilingi alun-alun, seluruh gunungan dan tenongan kemudian diletakkan di depan panggung utama untuk dilanjutkan dengan prosesi doa lintas agama. Doa bersama itu menjadi bagian penting dalam rangkaian acara karena menegaskan bahwa Grebeg Sura bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga ruang spiritual yang menampung harapan masyarakat akan keselamatan dan keberkahan. Dalam suasana khidmat, doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diterima, sekaligus permohonan agar Kebumen senantiasa diberi kemajuan dan kesejahteraan.
Namun, situasi sempat berubah ketika warga yang sudah memadati area acara bergerak maju untuk melakukan tradisi ngalap berkah. Meski panitia telah mengimbau agar masyarakat menunggu hingga prosesi doa selesai, dorongan massa membuat beberapa gunungan langsung diserbu. Dalam waktu singkat, hasil bumi yang tersusun rapi itu habis ludes diperebutkan warga. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tradisi ngalap berkah masih sangat kuat melekat dalam ingatan kolektif masyarakat, meski perlu tetap diatur agar tidak mengganggu jalannya prosesi adat.
Selain grebeg gunungan, rangkaian malam itu juga dimeriahkan dengan tradisi iber-iber unggas ke alam bebas, memecah kendi berisi uang koin, serta rebutan tenong atau ambeng yang berisi jajanan tradisional. Setiap unsur acara memiliki simboliknya masing-masing, mulai dari pelepasan makhluk hidup ke alam, doa untuk kemakmuran, hingga berbagi rezeki dalam bentuk makanan. Seluruh rangkaian ini menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual yang kuat.
Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026 akhirnya menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat modern. Tradisi ini bukan hanya perayaan tahunan, melainkan wujud rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, dan upaya menjaga identitas daerah. Melalui kirab pusaka, gunungan hasil bumi, doa bersama, dan semangat ngalap berkah, masyarakat Kebumen menunjukkan bahwa budaya bukan sesuatu yang harus dikenang saja, melainkan harus dirawat, dihidupkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari perjalanan Kebumen yang berbudaya.(KN/*)



