Bonorowo, Kebumen – Kawasan Bonorowo yang selama puluhan tahun dikenal sebagai wilayah langganan banjir kini menunjukkan wajah baru. Daerah yang setiap musim penghujan kerap berubah menjadi hamparan genangan air layaknya rawa tersebut perlahan bertransformasi menjadi salah satu sentra pengembangan pertanian, perikanan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kebumen.
Perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Berbagai program pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan desa, hingga pemanfaatan potensi lokal menjadi faktor penting yang mendorong kebangkitan ekonomi di wilayah yang terdiri dari 11 desa tersebut.
Secara historis, Bonorowo merupakan bagian dari Kecamatan Mirit. Seiring berkembangnya jumlah penduduk dan kebutuhan pelayanan publik, wilayah ini resmi menjadi kecamatan mandiri pada tahun 2001. Sejak saat itu, pembangunan terus diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki, terutama di sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Meski memiliki karakteristik geografis yang rawan genangan saat musim hujan, masyarakat Bonorowo mampu mengubah tantangan tersebut menjadi peluang. Lahan yang sebelumnya dianggap kurang produktif kini dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kegiatan ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan warga.
Pemerintah Kecamatan Bonorowo menjadikan penguatan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan. Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok tani, kelompok pembudidaya ikan, hingga pelaku UMKM.
Camat Bonorowo, Tri Atmoko, mengatakan seluruh desa di wilayahnya kini telah memiliki BUMDes berbadan hukum. Keberadaan BUMDes tersebut menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan mengelola berbagai usaha produktif sesuai potensi masing-masing.
Menurutnya, pemerintah desa juga mengalokasikan sekitar 20 persen dana desa untuk mendukung program ketahanan pangan agar mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Ke-11 BUMDes kami bergerak aktif mengelola usaha produktif, mulai dari pengeringan padi, peternakan, hingga perikanan," ujar Tri Atmoko.
Salah satu contoh keberhasilan dapat dilihat di Desa Bonorowo. BUMDes setempat mengembangkan unit usaha pengeringan padi yang memberikan manfaat besar bagi petani. Kehadiran fasilitas tersebut membantu petani menjaga kualitas gabah setelah panen, terutama ketika cuaca tidak mendukung proses penjemuran secara alami.
Selain menjaga mutu hasil panen, fasilitas pengeringan juga memberikan nilai tambah terhadap harga jual gabah. Tidak hanya itu, BUMDes Desa Bonorowo telah menjalin kerja sama dengan Bulog sehingga membuka peluang pemasaran hasil panen yang lebih luas dan memberikan kepastian bagi para petani.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan rantai pasok pertanian di tingkat desa. Dengan dukungan kelembagaan yang kuat, petani tidak hanya berfokus pada proses budidaya, tetapi juga memperoleh akses terhadap fasilitas pascapanen yang selama ini menjadi tantangan.
Selain sektor pertanian, Bonorowo juga terus mengembangkan potensi perikanan air tawar. Kondisi geografis yang memiliki banyak sumber air menjadi modal penting dalam pengembangan budidaya ikan konsumsi.
Desa Tlogorejo menjadi salah satu kawasan yang berkembang sebagai sentra budidaya ikan nila. Produksi ikan dari desa tersebut terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pembudidaya dan penerapan teknik budidaya yang lebih modern.
Tidak hanya ikan nila, budidaya ikan lele juga menjadi komoditas unggulan yang terus didorong pemerintah kecamatan. Pengembangan sektor ini diproyeksikan mampu mendukung penyediaan bahan pangan bergizi, termasuk untuk mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis.
Para pembudidaya ikan di Bonorowo juga telah membentuk Forum Pembudidaya Ikan sebagai wadah koordinasi dan peningkatan kapasitas. Melalui forum tersebut, para anggota dapat saling bertukar pengalaman, berbagi informasi mengenai teknologi budidaya, hingga mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.
Sinergi antarpetani dan pembudidaya ikan menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan Bonorowo.
Di sisi lain, sektor UMKM juga menunjukkan geliat yang semakin positif. Industri makanan tradisional lanting masih menjadi salah satu identitas ekonomi masyarakat Bonorowo yang mampu bertahan hingga saat ini.
Produksi lanting tersebar di sejumlah desa seperti Ngasinan, Patukrejom, Rowosari, Bonorowo, hingga Pujodadi. Berbagai pelaku usaha terus mempertahankan cita rasa khas sekaligus meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Keberadaan UMKM lanting tidak hanya membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional Kebumen. Dengan dukungan promosi dan penguatan pemasaran, produk-produk tersebut memiliki peluang untuk menembus pasar regional bahkan nasional.
Pemerintah Kecamatan Bonorowo optimistis sinergi antara sektor pertanian, perikanan, BUMDes, dan UMKM akan menjadi fondasi kuat dalam membangun perekonomian daerah. Kolaborasi berbagai pihak dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi desa yang saling mendukung, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
Transformasi Bonorowo menjadi bukti bahwa daerah yang dahulu identik dengan bencana banjir tidak harus selamanya tertinggal. Dengan pengelolaan potensi lokal yang tepat, dukungan pemerintah, serta semangat masyarakat untuk terus berinovasi, kawasan ini berhasil membangun wajah baru sebagai sentra ekonomi berbasis desa.
Ke depan, berbagai potensi tersebut diharapkan terus berkembang sehingga Bonorowo tidak hanya dikenal sebagai kawasan pertanian dan perikanan yang produktif, tetapi juga sebagai contoh keberhasilan pembangunan ekonomi desa yang mampu mengubah tantangan alam menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(KN/*)




