KEBUMEN – Cuaca buruk yang melanda wilayah pesisir selatan Kabupaten Kebumen pada Minggu malam (14/6/2026) mengakibatkan gelombang laut meningkat dan memicu sejumlah insiden di kawasan perairan Logending, Kecamatan Ayah. Sedikitnya sembilan perahu nelayan dilaporkan karam setelah dihantam gelombang tinggi yang disertai angin kencang.
Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur kawasan pesisir sejak sore hingga malam hari. Kondisi cuaca yang memburuk membuat ombak di perairan selatan Kebumen menjadi lebih ganas dari biasanya, sehingga sejumlah perahu yang berada di area tambatan dan sekitar muara tidak mampu bertahan menghadapi terjangan gelombang.
Beruntung dalam kejadian tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Namun kerugian material diperkirakan cukup besar mengingat sebagian perahu mengalami kerusakan akibat terbalik, terisi air laut, maupun terbawa arus gelombang.
Sejak pagi hari, proses evakuasi langsung dilakukan secara gotong royong oleh berbagai unsur yang terlibat dalam kegiatan keselamatan laut dan kemaritiman. Tim gabungan bekerja keras untuk mengevakuasi perahu-perahu yang karam agar tidak mengalami kerusakan yang lebih parah.
Ketua SAR Lawet Perkasa, Bejo, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi pada malam hari menjadi faktor utama penyebab karamnya sejumlah perahu nelayan tersebut. Menurutnya, kombinasi hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi menciptakan kondisi laut yang sangat berbahaya.
“Semalam cuaca memang cukup ekstrem. Hujan turun disertai angin yang cukup kuat sehingga gelombang laut meningkat. Akibatnya beberapa perahu yang berada di sekitar kawasan tambatan tidak mampu bertahan dan akhirnya karam,” ujarnya saat memantau proses evakuasi.
Bejo mengatakan, begitu menerima laporan dari nelayan dan masyarakat pesisir, pihaknya segera melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk melaksanakan upaya penanganan dan evakuasi. Langkah cepat tersebut dilakukan agar perahu yang masih memungkinkan diselamatkan dapat segera ditarik ke lokasi yang lebih aman.
Menurutnya, kerja sama lintas instansi menjadi kunci keberhasilan proses evakuasi yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Berbagai pihak terlibat dalam operasi penyelamatan perahu, mulai dari unsur nelayan hingga aparat keamanan yang memiliki tugas di wilayah perairan.
Proses evakuasi melibatkan anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), personel TNI dari Pos Angkatan Laut Logending, anggota Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud), relawan SAR Lawet Perkasa, serta para nelayan setempat yang secara sukarela membantu proses penyelamatan.
Puluhan personel gabungan terlihat bekerja bersama menggunakan tali penarik, perahu bantuan, serta peralatan sederhana yang tersedia di lokasi. Beberapa perahu yang hanya mengalami kemasukan air berhasil dievakuasi lebih cepat, sementara perahu yang posisinya terbalik atau terseret ke area yang lebih sulit memerlukan penanganan khusus.
“Tidak ada korban jiwa, Alhamdulillah semua nelayan selamat dan sebagian besar perahu sudah berhasil dievakuasi. Ini berkat kerja sama semua pihak yang sejak pagi bersama-sama turun ke lapangan membantu proses penyelamatan,” kata Bejo.
Meski sebagian besar perahu berhasil diamankan, hingga Minggu sore masih terdapat satu perahu yang belum sepenuhnya berhasil dievakuasi. Tim gabungan terus berupaya melakukan penarikan dengan mempertimbangkan kondisi gelombang yang masih cukup tinggi.
Proses evakuasi terakhir tersebut berlangsung lebih sulit dibandingkan perahu lainnya karena posisi perahu berada di area yang cukup sulit dijangkau dan masih dipengaruhi arus laut yang kuat. Petugas harus menunggu momentum yang tepat agar proses penarikan dapat dilakukan dengan aman.
Bejo menambahkan bahwa keselamatan personel yang terlibat dalam proses evakuasi tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, seluruh kegiatan dilakukan dengan memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi laut.
“Kami tidak ingin memaksakan evakuasi jika kondisi gelombang tidak memungkinkan. Keselamatan tim yang bekerja di lapangan juga harus menjadi perhatian,” jelasnya.
Peristiwa karamnya sembilan perahu nelayan ini menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi masyarakat pesisir saat cuaca ekstrem melanda wilayah laut selatan Jawa. Karakteristik perairan Samudra Hindia yang langsung berhadapan dengan garis pantai selatan dikenal memiliki gelombang yang dapat berubah dengan cepat, terutama saat terjadi hujan dan angin kencang.
Sejumlah nelayan mengaku cuaca pada malam kejadian berubah cukup drastis. Awalnya kondisi laut masih terlihat normal, namun menjelang malam gelombang mulai meningkat dan disertai embusan angin yang semakin kuat. Dalam waktu singkat, situasi menjadi sulit dikendalikan sehingga beberapa perahu tidak sempat diamankan ke lokasi yang lebih terlindung.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini tetap menjadi pukulan bagi para nelayan yang menggantungkan mata pencaharian dari aktivitas melaut. Kerusakan perahu berpotensi menghambat aktivitas penangkapan ikan dan berdampak pada pendapatan keluarga nelayan.
Karena itu, berbagai pihak berharap proses perbaikan maupun pemulihan dapat segera dilakukan sehingga para nelayan dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Solidaritas antar nelayan yang terlihat selama proses evakuasi menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat pesisir dalam menghadapi musibah.
Pihak terkait juga mengimbau para nelayan untuk terus memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang sebelum melakukan aktivitas di laut. Kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dinilai sangat penting mengingat kondisi perairan selatan dapat berubah secara cepat dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Hingga berita ini ditulis, tim gabungan masih berada di lokasi untuk menyelesaikan proses evakuasi satu perahu yang tersisa. Diharapkan seluruh perahu dapat segera diamankan sehingga kerugian yang dialami nelayan tidak semakin besar.
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara nelayan, relawan, aparat keamanan, dan organisasi kemaritiman dalam menghadapi situasi darurat di wilayah pesisir. Berkat kerja sama yang solid, sebagian besar perahu yang terdampak berhasil diselamatkan dan proses penanganan dapat berjalan dengan aman serta terkendali.(KN/*)



