-->

Notification

×

Pasang Iklan

Kaos Kaki

Pasang Iklan

Kaos Kaki

Festival Kuliner Kebumen 2026 Cetak Omzet Rp1,06 Miliar, Transaksi Tembus Rp272 Juta Sehari

8/23/2026 | 10:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-07T17:27:08Z

KEBUMEN — Festival Kuliner Kebumen 2026 membukukan omzet Rp1.062.978.500 selama enam hari penyelenggaraan pada 18–23 Agustus 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Kebumen Fest 2026 tersebut melibatkan 54 tenant UMKM kuliner di area parkir barat Alun-Alun Pancasila, Kebumen.

Data transaksi menunjukkan aktivitas belanja masyarakat terus meningkat sejak hari pertama. Pada Selasa (18/8), omzet tercatat Rp58.158.500. Sehari berikutnya, transaksi naik menjadi Rp120.123.500.

Kenaikan berlanjut pada Kamis (20/8) dengan omzet Rp159.024.000 dan mencapai Rp188.834.000 pada Jumat (21/8).

Transaksi tertinggi terjadi pada Sabtu (22/8), dengan omzet mencapai Rp272.992.500. Sementara pada hari terakhir, Minggu (23/8), nilai transaksi masih berada pada level tinggi, yakni Rp263.846.000.

Jika seluruh transaksi selama enam hari dijumlahkan, 54 tenant tersebut menghasilkan perputaran omzet lebih dari Rp1 miliar. Angka tersebut belum memasukkan transaksi dari pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kawasan Alun-Alun Pancasila selama Kebumen Fest 2026.

Selain Festival Kuliner, kegiatan Kapal Mendoan selama periode yang sama mencatat omzet Rp89.377.000. Dengan demikian, jika kedua kegiatan tersebut digabungkan, nilai transaksi yang tercatat selama 18–23 Agustus mencapai Rp1.152.355.500.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa event dengan konsentrasi pengunjung tinggi dapat menciptakan ruang pasar bagi pelaku usaha lokal. Namun, nilai transaksi yang tercatat juga perlu dilihat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi selama festival, bukan semata-mata ukuran keseluruhan dampak ekonomi terhadap daerah.

Festival Kuliner Kebumen 2026 dibuka oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani pada Selasa (18/8). Sebanyak 54 pelaku usaha kuliner yang mengikuti kegiatan tersebut telah melalui proses verifikasi dan kurasi.

Para tenant berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Kebumen, dari Prembun hingga Gombong. Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari soto, nasi penggel, nasi kebuli, nasi goreng, bakso, seblak, bubur, es teler, kopi, dimsum, jenang, hingga aneka produk berbahan kedelai.

Kehadiran puluhan tenant dalam satu kawasan membuat masyarakat dapat menemukan berbagai pilihan makanan dan minuman tanpa harus berpindah lokasi.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu memperkenalkan produk UMKM sekaligus memberikan ruang pemasaran kepada pelaku usaha lokal.

“Festival Kuliner Kebumen 2026 ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan serta mempromosikan produk-produk unggulan pelaku UMKM lokal agar semakin dikenal luas oleh masyarakat. Kami berharap ajang ini tidak hanya memanjakan lidah para pecinta kuliner, tetapi juga mampu mendongkrak perekonomian daerah,” ujar Lilis.

Kepala Disperindag KUKM Kebumen Haryono Wahyudi mengatakan peserta festival tidak langsung ditetapkan tanpa proses seleksi. Pemerintah daerah melakukan verifikasi dan kurasi terhadap calon tenant sebelum kegiatan berlangsung dengan turut mempertimbangkan masukan dari masyarakat.

Menurut Haryono, konsep pemusatan tenant membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan kuliner dalam satu kawasan.

“Cukup di satu tempat, masyarakat bisa mencicipi 54 jenis kuliner pilihan,” ujar Haryono.

Salah satu kebijakan yang dinilai membantu pelaku UMKM adalah penyediaan tempat berjualan secara gratis. Para tenant tidak dikenakan biaya sewa lokasi selama festival berlangsung.

Kondisi tersebut dapat mengurangi salah satu komponen biaya operasional pedagang selama mengikuti event. Bagi konsumen, tidak adanya beban sewa tempat bagi tenant juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan harga jual agar tetap kompetitif.

Samsul, pemilik usaha Es Teler So Sweet, mengatakan fasilitas tersebut meringankan pelaku usaha yang mengikuti festival.

“Kami tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Karena tidak ada beban biaya sewa tempat, harga jual produk kepada konsumen bisa tetap sama dan terjangkau,” ungkap Samsul.

Dari sisi pengunjung, keberadaan Festival Kuliner Kebumen memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai makanan khas dan produk kuliner dari sejumlah wilayah di Kebumen dalam satu lokasi.

Riyanto (46), salah seorang pengunjung, mengatakan konsep tersebut memudahkannya menikmati beberapa makanan sekaligus tanpa perlu mencari ke lokasi berbeda.

“Di sini saya bisa sarapan nasi penggel, sambil minum kopi buatan Bara Cafe, sekaligus makan Jenang Srintil Mba Suci. Kapan lagi kalau nggak di Festival Kuliner Kebumen,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin sehingga pelaku kuliner lokal memiliki ruang promosi dan pemasaran yang berkelanjutan.


Dengan omzet lebih dari Rp1 miliar dari 54 tenant selama enam hari, Festival Kuliner Kebumen 2026 menunjukkan adanya aktivitas pasar yang cukup kuat ketika UMKM dikumpulkan dalam satu lokasi dan mendapat akses langsung kepada konsumen.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana pola tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda pemasaran yang berkelanjutan. Bagi pelaku UMKM, festival dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk, mendapatkan pelanggan baru, sekaligus menguji respons pasar.

Sementara bagi pemerintah daerah, data transaksi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan format kegiatan UMKM berikutnya, termasuk pemilihan lokasi, kurasi peserta, promosi, durasi festival, hingga upaya menghubungkan event dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kebumen.
×
Berita Terbaru Update