Mashhad – Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki tahap akhir pada Jumat (10/7/2026) di kota kelahirannya, Mashhad. Upacara penghormatan terakhir yang berlangsung selama sepekan menjadi salah satu prosesi kenegaraan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran dan dihadiri oleh jutaan pelayat serta delegasi dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Jenazah Ayatollah Ali Khamenei akhirnya dimakamkan di aula memorial yang berada di kawasan Kompleks Makam Suci Imam Reza, salah satu lokasi paling suci bagi umat Islam Syiah. Pemakaman tersebut menandai berakhirnya rangkaian prosesi penghormatan nasional yang dimulai sejak 4 Juli 2026.
Sebelum dimakamkan di Mashhad, jenazah disemayamkan di sejumlah kota yang memiliki nilai historis dan religius bagi masyarakat Iran. Ribuan hingga jutaan warga memadati setiap lokasi yang menjadi tempat persinggahan iring-iringan jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang memimpin Iran selama puluhan tahun.
Prosesi penghormatan tidak hanya berlangsung di Teheran sebagai ibu kota negara, tetapi juga menjangkau kota-kota penting seperti Karbala dan Najaf yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Kehadiran masyarakat di berbagai lokasi menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap momen bersejarah tersebut.
Pemerintah Iran menyebut jumlah pelayat yang mengikuti rangkaian prosesi mencapai angka yang sangat besar secara kumulatif selama beberapa hari pelaksanaan. Arus masyarakat terus berdatangan hingga menjelang prosesi pemakaman terakhir di Mashhad.
Sebagai bentuk penghormatan diplomatik, Pemerintah Indonesia mengirimkan delegasi khusus untuk menghadiri upacara pemakaman tersebut. Delegasi itu dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dan turut membawa pesan belasungkawa dari Presiden Prabowo Subianto kepada pemerintah serta rakyat Iran.
Rombongan Indonesia juga terdiri atas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani, Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, serta Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq Mughni.
Kehadiran tokoh-tokoh nasional dari unsur pemerintah maupun organisasi keagamaan itu mencerminkan penghormatan Indonesia terhadap hubungan bilateral dengan Iran sekaligus penghargaan kepada sosok Ayatollah Ali Khamenei yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik dan keagamaan di kawasan Timur Tengah.
Gus Yahya bersama Syafiq Mughni menjadi bagian dari utusan resmi Presiden Prabowo Subianto dalam menghadiri prosesi penghormatan terakhir tersebut. Keterlibatan dua tokoh organisasi Islam terbesar di Indonesia juga dipandang sebagai simbol persaudaraan antarumat Islam sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi diplomasi kemanusiaan.
Sebelum keberangkatan, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menjelaskan bahwa kunjungan delegasi Indonesia ke Iran bersifat singkat. Rombongan dijadwalkan tidak bermalam dan akan langsung kembali ke Jakarta setelah seluruh agenda resmi selesai dilaksanakan.
Menurut Muzani, setelah menghadiri prosesi pemakaman pada Jumat pagi waktu setempat, rombongan akan melaksanakan ziarah, kemudian melakukan pertemuan resmi dengan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Menteri Luar Negeri dan Ketua Parlemen Iran.
Usai seluruh rangkaian agenda diplomatik tersebut selesai, delegasi Indonesia dijadwalkan segera bertolak kembali ke Tanah Air pada hari yang sama.
Selain menjadi bentuk penghormatan kepada pemimpin negara sahabat, kehadiran delegasi Indonesia juga memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjaga hubungan baik dengan berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Indonesia selama ini menjalin kerja sama dengan Iran di berbagai bidang, mulai dari diplomasi, perdagangan, pendidikan hingga kebudayaan.
Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sendiri menjadi perhatian dunia internasional karena melibatkan pengamanan berskala besar serta dihadiri berbagai kepala negara, pejabat tinggi pemerintahan, tokoh agama, dan delegasi resmi dari sejumlah negara.
Bagi masyarakat Iran, momen tersebut tidak hanya menjadi prosesi pemakaman seorang pemimpin negara, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah Republik Islam Iran. Sementara bagi komunitas internasional, kehadiran berbagai delegasi mencerminkan pentingnya hubungan diplomatik dan penghormatan terhadap tradisi kenegaraan dalam momentum duka nasional.
Dengan berakhirnya prosesi pemakaman di Mashhad, Iran memasuki babak baru setelah kepergian salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern negara tersebut. Perhatian dunia kini tertuju pada proses transisi kepemimpinan serta arah kebijakan Iran di masa mendatang, sementara hubungan diplomatik dengan negara-negara sahabat, termasuk Indonesia, diharapkan tetap terjalin dengan baik.(KN/*)




