-->

Notification

×

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Bedah Rumah ke-52 Sedulur Kebumen Ubah Kehidupan Taryono, Semangat Gotong Royong Hadirkan Harapan Baru

7/08/2026 | 12:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-08T16:32:17Z

KEBUMEN – Semangat gotong royong kembali menjadi bukti bahwa kepedulian sosial mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Komunitas Sedulur Kebumen kembali melaksanakan program bedah rumah ke-52 dengan membantu Taryono, warga RT 02 RW 08 Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, yang selama ini tinggal seorang diri di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak layak huni.

Penyerahan bantuan dilaksanakan pada Rabu (8/7/2026) dan berlangsung penuh haru. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Ketua Komunitas Sedulur Kebumen Sugeng, jajaran Forkopimcam Alian, Pemerintah Desa Krakal, para donatur, serta anggota Komunitas Sedulur Kebumen yang selama ini aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial di Kabupaten Kebumen.

Program bedah rumah ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap warga yang membutuhkan. Tidak hanya memperbaiki kondisi fisik rumah, kegiatan tersebut juga menghadirkan harapan baru bagi penerima bantuan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.

Rumah Tak Layak Huni Kini Menjadi Tempat Tinggal yang Lebih Aman

Sebelum mendapatkan bantuan, Taryono tinggal di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari standar kelayakan.

Bangunan tersebut berdinding anyaman bambu yang sudah lapuk, berlantaikan tanah, serta memiliki konstruksi yang rapuh sehingga kurang aman untuk dihuni. Saat musim hujan tiba, kondisi rumah semakin memprihatinkan karena rentan bocor dan lembap.

Melihat kondisi tersebut, Komunitas Sedulur Kebumen bersama para donatur bergerak memberikan bantuan melalui program bedah rumah.

Ketua Komunitas Sedulur Kebumen, Sugeng, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar membangun sebuah rumah, tetapi juga menjadi simbol kepedulian sosial yang lahir dari semangat gotong royong masyarakat.

"Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah membantu masyarakat Kebumen untuk mewujudkan rumah layak huni. Bantuan ini merupakan bentuk semangat kepedulian dan gotong royong untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.

Menurut Sugeng, keberhasilan program tersebut tidak lepas dari dukungan para donatur yang selama ini mempercayakan Sedulur Kebumen sebagai jembatan untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu.

Bantuan Mencapai Rp37 Juta

Dalam program bedah rumah ke-52 ini, total bantuan yang berhasil dihimpun mencapai Rp37 juta.

Dana tersebut dialokasikan untuk dua kebutuhan utama, yakni Rp25 juta digunakan untuk pembangunan rumah, sedangkan Rp12 juta dimanfaatkan untuk melengkapi kebutuhan perabotan rumah tangga agar penerima dapat menempati rumah dengan lebih nyaman.

Sugeng berharap bantuan tersebut tidak hanya memberikan tempat tinggal yang layak, tetapi juga menjadi penyemangat bagi penerima dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Semoga bantuan ini memberikan manfaat dan menjadi penyemangat bagi penerima untuk menjalani kehidupan yang lebih baik," katanya.

Ia menambahkan, program bedah rumah yang kini telah memasuki edisi ke-52 menjadi bukti bahwa semangat berbagi masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Kebumen.

Menurutnya, setiap program yang terlaksana merupakan hasil kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap sesama.

Bupati Apresiasi Kepedulian Sedulur Kebumen

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kebumen Lilis Nuryani turut meninjau secara langsung rumah yang sebelumnya ditempati Taryono.

Melihat kondisi rumah sebelum direnovasi, Bupati mengaku tersentuh karena bangunan tersebut memang sudah tidak layak dijadikan tempat tinggal.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Kebumen, Bupati menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Sedulur Kebumen beserta seluruh donatur yang telah berkontribusi membantu masyarakat kurang mampu.

"Hari ini kami menghadiri undangan dari Komunitas Sedulur Kebumen untuk menyaksikan penyerahan bantuan bedah rumah kepada masyarakat di Desa Krakal. Atas nama Pemerintah Kabupaten Kebumen, kami mengucapkan terima kasih kepada Sedulur Kebumen yang telah membantu masyarakat kurang mampu," ujar Bupati.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi persoalan rumah tidak layak huni. Karena itu, kolaborasi dengan komunitas sosial, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, maupun masyarakat menjadi sangat penting.

"Tadi kami sudah melihat sendiri kondisi rumah yang sangat memprihatinkan dan kurang layak sebagai tempat tinggal. Kami mempersilakan siapa saja, baik masyarakat maupun komunitas, untuk membantu sesama. Tidak hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga bisa bergotong royong seperti yang dilakukan Sedulur Kebumen," katanya.

Bupati berharap gerakan sosial semacam ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak warga yang memperoleh manfaat.

Menurutnya, budaya gotong royong merupakan kekuatan besar yang dimiliki masyarakat Indonesia dan harus terus dijaga.

"Semoga ke depan semakin banyak komunitas yang hadir membantu orang-orang yang membutuhkan dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari semangat gotong royong," imbuhnya.

Perjuangan Hidup Taryono Mengundang Haru

Di balik rumah yang kini berdiri lebih layak, tersimpan kisah perjuangan hidup Taryono yang selama bertahun-tahun harus bertahan dalam berbagai keterbatasan.

Ia hidup seorang diri tanpa keluarga yang mendampingi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Taryono bekerja serabutan. Pekerjaan yang dilakoninya antara lain mencangkul di sawah milik warga dan mencari rumput untuk ternak.

Namun, aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan setiap hari karena kondisi kesehatannya.

Taryono mengaku memiliki riwayat penyakit asma sehingga tidak mampu melakukan pekerjaan berat dalam waktu lama.

"Kegiatan sehari-hari kadang nyangkul di sawah dan mencari rumput. Saya tidak bisa kerja yang berat karena memiliki penyakit asma," ungkapnya.

Dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan sembako dari pemerintah serta kepedulian para tetangga yang sering memberikan makanan.

Meski hidup sederhana, Taryono tetap menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur.

Air Mata Bahagia Saat Menerima Rumah Baru

Momen penyerahan bantuan menjadi saat yang paling mengharukan bagi Taryono.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa syukur karena akhirnya memiliki rumah yang lebih layak untuk ditempati setelah bertahun-tahun hidup dalam kondisi serba terbatas.

"Saya senang sekali, Alhamdulillah. Bertahun-tahun tinggal di rumah seperti ini, akhirnya mendapat bantuan bedah rumah dari Sedulur Kebumen," ucapnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu tanpa mengenal dirinya secara pribadi.

Baginya, bantuan tersebut bukan hanya memberikan tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga menghadirkan harapan baru untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

"Untuk makan sehari-hari saya masak dari bantuan sembako pemerintah dan tetangga juga kadang memberi makan. Saya sangat bersyukur, semoga bantuan dari Sedulur Kebumen dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa," tuturnya penuh haru.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan Masyarakat

Program bedah rumah yang dijalankan Komunitas Sedulur Kebumen menunjukkan bahwa persoalan sosial dapat diatasi melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat.

Kepedulian para donatur, relawan, pemerintah, dan warga sekitar menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Melalui program yang kini telah mencapai edisi ke-52, Sedulur Kebumen terus membuktikan bahwa aksi sosial tidak harus menunggu menjadi besar. Berawal dari kepedulian dan semangat gotong royong, bantuan yang diberikan mampu mengubah kehidupan seseorang secara nyata.

Harapannya, gerakan serupa dapat menginspirasi lebih banyak komunitas, lembaga, maupun individu untuk turut berkontribusi membantu masyarakat kurang mampu. Sebab, setiap kepedulian sekecil apa pun dapat menjadi awal lahirnya harapan baru bagi sesama.(KN/*)
×
Berita Terbaru Update