KEBUMEN – Suasana Alun-Alun Pancasila Kebumen pada Sabtu malam (6/6/2026) terasa berbeda. Ribuan warga yang memadati kawasan Car Free Night disuguhkan pertunjukan seni budaya yang sarat nilai sejarah melalui pementasan Sendratari Babad Kebumen yang dibawakan oleh Sanggar Kesya. Acara yang dimulai sejak pukul 18.30 WIB tersebut menjadi salah satu magnet hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat yang menikmati akhir pekan di pusat kota.
Pementasan ini mendapat perhatian khusus karena mengangkat kisah perjuangan rakyat Panjer dalam melawan kolonialisme Belanda pada masa awal masuknya VOC ke Nusantara. Melalui perpaduan seni tari, musik tradisional, dan teatrikal yang memukau, para penampil berhasil menghadirkan kembali semangat heroik para pejuang Panjer yang berjuang mempertahankan kehormatan tanah Jawa dari ancaman penjajahan.
Turut hadir menyaksikan pertunjukan tersebut Bupati Kebumen Lilis Nuryani bersama sejumlah pejabat daerah. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Kebumen itu menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal melalui seni pertunjukan yang kreatif dan mudah diterima berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Sebelum memasuki puncak acara berupa Sendratari Babad Kebumen, penonton terlebih dahulu disuguhkan rangkaian tarian tradisional yang dibawakan secara apik oleh para seniman muda. Pertunjukan diawali dengan Tari Gugur Gunung yang menggambarkan semangat gotong royong masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan Tari Atji, Gambyong, Caping Ayu, Kebyak Anting, hingga Medley Nusantara yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia dalam satu panggung.
Rangkaian pertunjukan pembuka tersebut sukses menciptakan suasana meriah sekaligus memperlihatkan kekayaan seni budaya yang dimiliki daerah. Tepuk tangan penonton berkali-kali menggema mengiringi setiap penampilan yang ditampilkan dengan penuh energi dan kreativitas.
Memasuki pementasan utama, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Sendratari Babad Kebumen mengisahkan perjalanan sejarah pada abad ke-17 ketika VOC mulai memperluas pengaruhnya di berbagai wilayah Nusantara. Pada masa itu, Sultan Agung dari Kesultanan Mataram berupaya menggalang kekuatan dari berbagai daerah untuk menghadapi kekuasaan kolonial yang semakin mengancam kedaulatan bangsa.
Dalam cerita yang ditampilkan, rakyat Kadipaten Panjer digambarkan sebagai bagian penting dari perjuangan tersebut. Para ksatria, senopati, petani, dan pemuda Panjer bersatu mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan besar, yakni melawan penindasan dan mempertahankan martabat tanah air. Adegan demi adegan ditampilkan secara dramatis melalui gerakan tari yang kuat, iringan musik yang menggugah semangat, serta tata panggung yang mendukung suasana perjuangan.
Penonton tampak larut dalam alur cerita yang disajikan. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka. Anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias mengikuti jalannya pertunjukan sampai akhir.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen, Frans Haidar, yang hadir langsung di lokasi mengaku bangga dengan terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, kegiatan seni budaya seperti ini bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang efektif dalam mengenalkan sejarah daerah.
Ia menilai pementasan Sendratari Babad Kebumen mampu menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah dipahami. Dengan pendekatan seni pertunjukan, generasi muda dapat mengenal kembali tokoh, peristiwa, serta nilai-nilai perjuangan yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Frans juga berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sehingga ruang ekspresi bagi para seniman lokal semakin terbuka. Selain itu, keberadaan event budaya di ruang publik juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperkuat citra Kebumen sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan warisan budaya.
Sementara itu, Bupati Kebumen Lilis Nuryani memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pementasan tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi atau pembelajaran di sekolah, tetapi perlu dihidupkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Bupati menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kebumen memiliki komitmen kuat untuk terus mengembangkan ekosistem seni dan pariwisata daerah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai event budaya yang rutin digelar, baik di Alun-Alun Pancasila saat Car Free Night maupun di berbagai destinasi wisata yang tersebar di Kabupaten Kebumen.
Menurutnya, kegiatan seni budaya memiliki dampak yang luas. Selain menjaga kelestarian tradisi, acara semacam ini juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui meningkatnya kunjungan warga dan wisatawan. Para pelaku usaha kecil, pedagang kuliner, hingga komunitas kreatif turut merasakan manfaat dari ramainya aktivitas masyarakat di sekitar lokasi acara.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Sendratari Babad Kebumen menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan daerah memiliki nilai penting yang harus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat persatuan, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air yang ditunjukkan rakyat Panjer dalam cerita tersebut menjadi pesan moral yang tetap relevan hingga saat ini.
Melalui panggung budaya di jantung Kota Kebumen, nilai-nilai sejarah itu kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Antusiasme penonton yang memadati Alun-Alun Pancasila menjadi bukti bahwa seni budaya masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Dengan dukungan pemerintah, seniman, dan masyarakat, berbagai warisan budaya daerah diharapkan terus lestari dan menjadi kebanggaan bersama untuk generasi yang akan datang.(KN/*)



