Kebumen – Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kebumen pada 24 Februari 2025 kembali menimbulkan bencana pohon tumbang. Insiden ini melumpuhkan akses jalan utama dan merusak sejumlah rumah warga di dua kecamatan berbeda. Untungnya, tidak ada korban jiwa dilaporkan, meski penanganan memakan waktu hingga pagi hari berikutnya.
Kejadian pertama terjadi di Jalan Nasional III, Dukuh Kalisalam, Desa Kalibagor, Kecamatan Kebumen, sekitar pukul 21.30 WIB. Sebuah pohon besar roboh ke arah badan jalan, menutup sebagian besar akses lalu lintas. Pengendara yang melintas terpaksa berhenti atau memutar balik, menyebabkan kemacetan panjang di jalur vital yang menghubungkan pusat kota Kebumen dengan wilayah selatan. Kondisi malam hari yang gelap dan hujan deras membuat situasi semakin riskan, dengan puing-puing pohon berserakan dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Tak jauh dari sana, di Desa Dorowati, Kecamatan Klirong, malapetaka serupa menimpa sekitar pukul 20.30 WIB. Sebuah pohon asem berukuran raksasa tumbang melintang di Jalan Raya Dorowati–Podourip Petanahan. Pohon itu tak hanya menghalangi lalu lintas, tapi juga menimpa tiga rumah warga di Dukuh Jetis, RT 03/RW 03. Rumah milik Susanto, Sutriyadi, dan Sumedi mengalami kerusakan parah pada bagian atap dan dinding. Atap rumah Susanto porak-poranda, sementara rumah Sutriyadi kehilangan sebagian tembok samping. Sumedi, yang tinggal paling dekat dengan pohon, melaporkan retakan besar pada struktur bangunannya.
Menurut Udy Cahyono Kalaksa BPBD Kebumen, penanganan malam hari tidak memungkinkan karena ukuran pohon yang besar dan posisinya yang masih mengancam rumah warga. "Kami lakukan penanganan pagi hari dengan menggunakan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Keamanan prioritas utama," jelasnya saat ditemui di lokasi. Tim gabungan BPBD Kebumen, PUPR, dan Polri akhirnya berhasil membersihkan pohon di Kalibagor pada dini hari, sementara di Dorowati, proses pemotongan dilakukan pukul 07.00 WIB dengan bantuan ekskavator. Akses jalan sepenuhnya terbuka sekitar pukul 10.00 WIB.
Cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. BMKG mencatat hujan intensitas tinggi dengan kecepatan angin hingga 40 km/jam di Kebumen sepanjang malam itu. Wilayah Kebumen memang rawan hidrometeorologi, terutama musim hujan seperti sekarang. Data BPBD Kebumen menunjukkan, sejak Januari 2026, sudah ada 15 kejadian pohon tumbang serupa, dengan dampak pada infrastruktur dan perumahan. "Ini bukan yang pertama. Akar pohon tua di pinggir jalan sering rapuh karena sedimentasi tanah dan kurangnya pemangkasan rutin," ungkap seorang warga Kalibagor yang enggan disebut namanya.
Respons cepat dari pemerintah daerah patut diapresiasi. BPBD Kebumen segera mendata kerusakan dan memberikan bantuan sementara kepada korban di Dorowati, seperti terpal pengganti atap dan makanan siap saji. Koordinasi dengan Polairud memastikan pengalihan lalu lintas lancar semalam. PUPR berkomitmen melakukan inventarisasi pohon rawan di sepanjang jalan nasional dan desa. "Kami akan prioritaskan pemangkasan di titik hotspot seperti Kalibagor dan Klirong," janji Kepala BPBD Kebumen dalam konferensi pers singkat pagi ini.
Warga terdampak punya cerita pilu. Susanto (52), pemilik rumah pertama yang terkena, bercerita bagaimana keluarganya terbangun oleh suara gemuruh pohon runtuh. "Anak saya hampir tertimpa, untung kami evakuasi cepat. Kerugian sekitar Rp 20 juta untuk perbaikan," katanya sambil membersihkan puing. Sutriyadi menambahkan, "Pohon itu sudah miring sejak minggu lalu, tapi tak ada yang tangani." Sumedi, yang rumahnya paling parah, kini mengungsi ke rumah saudara sambil menunggu bantuan rekonstruksi.
BPBD Kebumen mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya saat hujan deras disertai angin kencang. "Hindari berlindung di bawah pohon besar, laporkan pohon miring ke RT/RW atau BPBD hotline 112. Jangan parkir kendaraan di bawah pepohonan tua," tegas Udy Cahyoo. Mereka juga sarankan pemerintah desa lakukan pemetaan pohon berbahaya secara berkala.
Insiden ini jadi pengingat betapa rentannya infrastruktur Kebumen terhadap perubahan iklim. Dengan musim hujan yang diprediksi berlanjut hingga Maret 2026, diperlukan langkah preventif seperti penanaman pohon jenis kuat akar dan drainase jalan yang lebih baik. Warga Dorowati berharap, kejadian ini tak terulang, agar Kampung Jetis kembali tenang tanpa bayang-bayang pohon raksasa.





Post a Comment