Kebumen, 28 Februari 2026 – Warga RT 01 RW 02 Desa Pekunden, Kecamatan Kutowinangun, dikejutkan banjir akibat luapan drainase pada Sabtu malam (28/2/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari memicu debit air irigasi desa meluap deras ke permukiman warga, tepatnya di area samping Jalan Nasional atau selatan jalur kereta api. Banjir masuk kedalam rumah warga sekitar 25 rumah, 1 sekolah TK, dan 1 warung kelontong, dengan ketinggian air di dalam rumah mencapai 30-50 cm.
Korban terdampak mencapai 33 kepala keluarga (KK) atau sekitar 95 jiwa. Mereka terpaksa berjibaku menahan dan membersihkan air yang masuk dkedalam rumah. "Air datang tiba-tiba setelah hujan deras dua jam. Kami sempat evakuasi barang ke tempat tinggi, tapi furnitur dan beras basah kuyup. Untung anak-anak aman," cerita Ibu Siti, warga RT 01 yang rumahnya terendam 40 cm. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp50 juta, termasuk kerusakan perabot, stok dagangan warung, dan fasilitas sekolah dasar.
Penyebab utama banjir ini adalah luapan saluran drainase yang tersumbat lumpur dan sampah akibat curah hujan ekstrem. Air irigasi Desa Pekunden, yang biasanya mengalir lancar, tak kuat menampung volume besar dari daerah hulu. Lokasi permukiman yang berdekatan dengan Jalan Nasional memperburuk situasi, karena aliran air deras menyusup melalui celah-celah gorong-gorong. "Kami sudah sering ingatkan warga jaga drainase, tapi hujan tahun ini lebih ganas dari biasa," ujar Sekretaris Desa Pekunden, Imam Susanto.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen langsung bergerak cepat, mereka melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah desa (pemdes). Pendataan dampak banjir dilakukan untuk memetakan kebutuhan mendesak. "Kami lakukan koordinasi dengan Pemdes serta kecamatam. Selain itu, pompa air (alkon) dikerahkan untuk membersihkan air yang masuk ke rumah warga," jelas Kepala Bidang Kedaruratan dan logistik BPBD Kebumen, Bagus Priyanto.
Upaya penanganan berjalan mulus berkat kolaborasi. Hingga pukul 23.00 wib, ketinggian air sudah surut, memungkinkan sebagian warga membersihkan rumah. Bencana ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim di wilayah Kebumen yang rawan banjir musiman.
Data BMKG mencatat curah hujan 28 Februari mencapai 80 mm/jam, tertinggi sejak awal 2026. Pemdes Pekunden berencana bangun tanggul mini dan normalisasi drainase permanen.




Post a Comment