-->

Notification

×

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Jelang Lebaran, Gas 3 Kg Mulai Menghilang di Pasaran

6/09/2018 | 9:03 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-05T04:24:36Z

KEBUMEN – Menjelang Hari Raya Idulfitri, sejumlah warga dan pelaku usaha di Kabupaten Kebumen sempat mengeluhkan sulitnya mendapatkan tabung LPG bersubsidi 3 kilogram. Kelangkaan yang berlangsung sekitar dua pekan sebelum Lebaran itu berdampak pada aktivitas rumah tangga maupun usaha kecil yang bergantung pada pasokan gas bersubsidi.

Selain sulit diperoleh, harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer juga mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat para pedagang kecil harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Car Free Day (CFD) Alun-alun Kebumen, Santoso, mengatakan kelangkaan gas bersubsidi cukup meresahkan para pedagang. Menurutnya, LPG 3 kilogram merupakan kebutuhan utama bagi sebagian besar pelaku usaha kuliner skala kecil.

"Kelangkaan ini sangat terasa karena kami menggunakannya setiap hari untuk memasak. Selain sulit dicari, harganya juga naik sehingga menambah beban biaya usaha," ujarnya.

Ia menjelaskan, harga LPG 3 kilogram yang semula berkisar Rp16.000 hingga Rp18.000 di tingkat pangkalan maupun agen, di lapangan dapat mencapai Rp20.000 hingga Rp22.000 per tabung.

Santoso yang sehari-hari berjualan nasi goreng di kawasan Alun-alun Kebumen mengaku sempat kesulitan memperoleh tabung gas. Ia harus mencari ke sejumlah lokasi, mulai dari wilayah Kebulusan hingga agen di Jalan Arumbinang, namun persediaan tetap terbatas.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera ditangani karena terjadi dalam waktu yang cukup lama, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Lebaran.

Keluhan serupa juga disampaikan Amah, pelaku usaha katering di wilayah Kambangsari, Bandungsruni, Kecamatan Alian. Ia mengaku pasokan LPG 3 kilogram di daerahnya juga sulit diperoleh sehingga menyulitkan operasional usahanya.

Sebagai pelaku usaha yang setiap hari membutuhkan bahan bakar untuk memasak dalam jumlah cukup besar, keterlambatan memperoleh pasokan gas dapat memengaruhi pelayanan kepada pelanggan.

"Kami berharap persoalan ini segera mendapat perhatian sehingga pasokan gas kembali normal," katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun saat itu, kondisi pasokan LPG bersubsidi di sejumlah wilayah memang berbeda-beda. Di Kecamatan Mirit, misalnya, tabung gas 3 kilogram masih tersedia, meski jumlahnya terbatas. Sementara itu, LPG nonsubsidi ukuran 5 kilogram dilaporkan masih relatif mudah ditemukan di pasaran.

Perbedaan kondisi distribusi di berbagai wilayah menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap rantai pasok LPG bersubsidi agar penyalurannya tepat sasaran dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan ketika permintaan cenderung meningkat.

Kelangkaan LPG bersubsidi tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga terhadap pelaku usaha mikro dan kecil yang mengandalkan gas sebagai bahan bakar utama. Kenaikan harga maupun terbatasnya pasokan berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mengurangi keuntungan usaha.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelancaran distribusi energi bersubsidi, terutama pada periode dengan tingkat konsumsi tinggi. Dengan pasokan yang stabil dan distribusi yang tepat, kebutuhan masyarakat maupun pelaku usaha diharapkan dapat terpenuhi tanpa menimbulkan gejolak harga di tingkat konsumen.
×
Berita Terbaru Update