![]() |
| Rumaniyah bersama kedua orangtuanya, Kamis (14/3). (foto: metrojateng.com/Efendi) |
Di tengah keterbatasan biaya lantaran kedua orang
tuanya yang buruh tani, Rumaniyah berusaha keras untuk menjadi seorang
polisi wanita. Jalan terjal pun ia lalui demi keberhasilan setiap
tahapan seleksi dalam pendaftaran perekrutan anggota kepolisian. Mulai
dari biaya pas-pasan, hingga uang transportasi yang digunakan bekal pun
sedianya untuk melunasi utang orangtuanya.
“Sejak kecil memang saya ingin membahagiakan orangtua.
Saya sangat bersyukur karena dapat diterima menjadi anggota polisi.
Apalagi kami ini dari keluarga besar yang tinggal di rumah kecil, ayah
saya hanya seorang buruh tani yang tidak punya sawah sepetak pun,” ujar
Rumaniyah saat ditemui di sela Rakernis Biro SDM Polda Jateng di Wisma
Perdamaian, Kamis (15/3).
Rumaniyah kemudian berkisah tentang perjalanannya
sebagai anak buruh tani hingga menjadi anggota polisi. Berawal saat ia
lulus dari SMK Negeri Jawa Tengah pada 2017 lalu, ia mencoba untuk
mengikuti seleksi penerimaan anggota polisi. Sebelumnya ia juga sempat
melamar beberapa pekerjaan ditempat lain, hingga akhirnya nasib
membawanya pada seleksi penerimaan bintara polisi yang diselenggarakan
oleh Polda Jawa Tengah.
“Saya juga kan minim biaya, selama saya menjalani tes
seleksi saya menginap di asrama tempat saya sekolah dulu meskipun saya
sudah lulus. Saya minta ijin sama pengurusnya untuk numpang selama
menjalani tes seleksi penerimaan bintara polisi, dan Alhamdulillah
diperbolehkan,” kata Gadis kelahiran 10 Agustus 1998 itu.
Dalam pelaksanaan seleksi, Rumaniyah mengaku tidak
mempunyai pengetahuan lebih tentang bidang yang ia daftarkan. Ia
mendaftar bintara polisi di bidang IT, padahal semasa SMK ia mengambil
jurusan Otomasi Industri.
“Sebenarnya saya awalnya ingin menjadi polwan umum,
namun karena tinggi saya nggak cukup maka saya mencoba apa yang saya
bisa. Meski saya tidak mempunyai basic tentang IT saya mencoba, kemudian
saya meminta bantuan guru komputer di sekolah saya dan Alhamdulillah
beliau mau,” imbuh gadis kelahiran Pekalongan tersebut.
Tekad Rumaniyah untuk membahagiakan kedua orang tuanya
sudah bulat. Dengan usaha yang maksimal, ia bersungguh-sungguh
menjalani tahapan demi tahapan seleksi penerimaan bintara polisi.
Berbeda dengan rekan seperjuangannya, Rumaniyah menjalani tahapan demi
tahapan seleksi penerimaan bintara seorang diri tanpa didampingi orang
tua. Meski demikian, selama menjalani seleksi, Rumaniyah mengaku
dipertemukan dengan banyak calon Bintara yang kemudian dekat dengannya.
“Tapi saya yakin di belakang saya masih banyak orang
yang mendoakan agar sukses, termasuk orangtua. Saat seleksi saya banyak
dipertemukan dengan orang berhati malaikat seperti teman saya dan
lainnya.Mereka sangat baik walaupun baru kenal dan tidak membedakan saya
meski dari keluarga tidak mampu. Akhirnya saya bisa lolos semua
seleksi. Itu sekali mencoba saja,” papar anak keenam dari tujuh
bersaudara pasangan Kliwon dan Miskiyah itu.
Air matanya Rumaniyah tak tertahan tatkala ia mulai
menceritakkan tentang biaya. Sejak awal mendaftar ia hanya membawa bekal
secukupnya. Itu pun dari uang yang seharusnya digunakan orangtuanya
untuk membayar utang serta sedikit tambahan dari adiknya yang bekerja
sebagai tukang jahit. Bahkan saat pelantikannya sebagai Bripda hampir
saja tidak disaksikan oleh kedua orangtuanya.
“Saat pelantikan pun awalnya orangtua tidak bisa
datang karena jauh dan terkendala biaya. Tapi sekali lagi Tuhan
mempermudah jalan saya karena Kepala SPN dan Wakil Kepala SPN di sana
memberi bantuan agar orangtua saya bisa hadir. Kalau untuk biaya selama
pendaftaran dan pendidikan, itu dari uang yang sebenarnya mau digunakan
untuk membayar utang lalu adik saya yang putus sekolah juga memberi
tambahan,” tuturnya sambil menahan tangis.
Rumaniyah juga menceritakan bagaimana respons
rekan-rekannya saat tahu ia masuk polisi tanpa biaya tambahan sepeser
pun. “Rekan saya banyak yang tidak percaya kalau saya masuk menjadi
polisi murni tanpa bantuan uang,” ucapnya.
Kini usaha kerasnya untuk masuk pendidikan polisi
terbayar sudah setelah wanita asal Desa Trangkil Kulon, Kecamatan
Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, tersebut sah menjadi bagian dari
Kepolisian Republik Indonesia. Rumaniyah resmi dilantik sebagai Bintara
Polwan dengan pangkat Brigadir Dua (Bripda) pada 6 Maret 2018 lalu dan
sekarang ditempatkan di Divisi TIK Mabes Polri.
Sementara Kliwon, ayah Rumaniyah tak henti-hentinya
mengucap syukur atas lolosnya Nak keenanya dalam seleksi penerimaan
bintara polisi 2017. Ia tak pernah mengira bahwa salah satu dari anaknya
bisa mengemban amanah sebagai seorang anggota polisi. “Senang anak saya
sudah jadi polwan karena saya tidak punya apa-apa. Saya tidak punya
biaya apa pun, kerjanya cuma buruh tani dengan bayaran Rp 60 ribu per
hari. Saya bersyukur dan berterima kasih,”
Asisten SDM Kapolri, Irjen Pol Arief Sulistyanto,
mengatakan hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa untuk menjadi
anggota polisi tidak diperlukan biaya berlebih. Yang dibutuhkan oleh
para calon bintara hanyalah kemampuan dan tekad mereka masing-masing
calon.
“Contoh tadi Rumaniyah dan orangtuanya yang buruh tani
sampai menangis di sini karena terharu. Ia menjadi Polwan dengan susah
payah, tanpa biaya sedikitpun bahkan untuk berangkat ke Jakarta saja
orangtua tidak bisa mengantar. Ini bukti kalau siapa pun bisa menjadi
anggota Polri jika mempunyai kemampuan,” kata Arief.
Sedangkan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono
menegaskan bahwa tidak ada biaya untuk menjadi anggota polisi. Dengan
begitu, ketika ada orang yang menawarkan atau bisa meloloskan orang
untuk menjadi anggota polisi dengan membayarkan sejumlah uang agar
segera dilaporkan ke pihaknya.




