KEBUMEN – Peluang besar terbuka bagi sektor pariwisata Kabupaten Kebumen setelah daerah ini resmi masuk dalam kawasan aglomerasi wisata Borobudur bersama Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Purworejo, dan Temanggung. Melalui skema pengembangan terpadu tersebut, Kebumen diproyeksikan menjadi salah satu destinasi penyangga yang akan menikmati dampak ekonomi dari tingginya kunjungan wisata ke kawasan Borobudur. Gagasan integrasi kawasan wisata itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah yang digelar di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu 3 Juni 2026.
Konsep aglomerasi wisata ini menghubungkan berbagai destinasi unggulan di lima daerah melalui penguatan konektivitas, pengembangan desa wisata, serta penyusunan kalender event bersama. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Borobudur tidak hanya berwisata di Magelang, tetapi juga diarahkan untuk menikmati berbagai destinasi lain di wilayah sekitarnya.
Bagi Kebumen, peluang tersebut dinilai sangat strategis. Kabupaten ini memiliki sejumlah destinasi unggulan yang dapat melengkapi pengalaman wisata Borobudur, mulai dari kawasan geopark bertaraf internasional hingga deretan pantai di pesisir selatan.
Salah satu kekuatan utama Kebumen adalah kawasan Geopark Kebumen yang telah memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark. Kawasan ini menawarkan perpaduan wisata geologi, edukasi, budaya, dan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain geopark, potensi wisata pantai juga menjadi andalan. Kawasan pesisir selatan Kebumen memiliki banyak destinasi yang selama ini dikenal wisatawan, seperti Pantai Ayah, Gua Jatijajar, Gua Petruk, hingga berbagai objek wisata alam lainnya yang berada dalam kawasan Geopark Kebumen.
Dalam pembahasan Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Temanggung, pengembangan kawasan aglomerasi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperluas manfaat ekonomi dari keberadaan Borobudur sebagai destinasi super prioritas nasional. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Borobudur tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus menjadi pusat konektivitas yang menghubungkan berbagai destinasi wisata unggulan di daerah sekitar.
Dengan skema tersebut, pergerakan wisatawan diharapkan semakin merata dan tidak terpusat di satu lokasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengelola objek wisata, tetapi juga sektor pendukung seperti hotel, restoran, UMKM, transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif di daerah.
Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai bagian dari ekosistem pariwisata baru. Kebumen dipandang memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut karena memiliki kekayaan alam, budaya, dan potensi wisata berbasis masyarakat yang tersebar di berbagai kecamatan.
Masuknya Kebumen dalam kawasan aglomerasi wisata Borobudur menjadi harapan baru bagi sektor pariwisata daerah. Jika konektivitas, promosi, dan infrastruktur dapat berjalan seiring, Geopark Kebumen dan pantai-pantai selatan berpotensi menjadi tujuan lanjutan bagi jutaan wisatawan yang selama ini hanya berkunjung ke Borobudur. Pada akhirnya, manfaat ekonomi yang tercipta diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Kebumen.(KN/*)


Post a Comment